Editors Choice

3/recent/post-list

Pasar Kramat Jati Produksi 5 Ton Sampah per Hari, Pramono Mau Sulap Jadi Pupuk


 Pasar Kramat Jati di Jakarta Timur menjadi sorotan setelah tercatat menghasilkan sekitar 5 ton sampah setiap hari. Jumlah tersebut sebagian besar berasal dari sampah organik seperti sisa sayuran, buah-buahan, dan limbah pedagang pasar.

Menanggapi kondisi tersebut, Pramono Anung, yang saat ini menjabat sebagai Pramono Anung, mendorong agar sampah pasar tidak hanya dibuang begitu saja, tetapi diolah menjadi produk yang lebih bermanfaat, salah satunya pupuk kompos.

Langkah ini dinilai sebagai bagian dari upaya memperkuat pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular sekaligus mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

GABUNG KE WEBSITE RESMI KAMI : DAFTAR/LOGIN

5 Ton Sampah per Hari dari Aktivitas Pasar

Sebagai salah satu pasar tradisional besar di Jakarta, Pasar Kramat Jati memiliki aktivitas ekonomi yang sangat tinggi setiap harinya.

Ribuan pedagang dan pengunjung berkontribusi terhadap tingginya volume sampah, terutama dari bahan pangan yang mudah busuk.

Dari total sekitar 5 ton sampah harian, sebagian besar merupakan sampah organik yang sebenarnya masih memiliki potensi untuk diolah kembali menjadi produk yang bernilai guna.

Namun selama ini, sebagian besar sampah tersebut masih berakhir di TPA tanpa proses pengolahan lebih lanjut.

Dorongan Pengolahan Sampah Jadi Pupuk

Pramono Anung menilai sampah organik dari pasar tradisional merupakan potensi besar yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Ia mendorong agar pengelolaan sampah di Pasar Kramat Jati diarahkan pada sistem pengolahan menjadi pupuk kompos yang dapat digunakan kembali untuk sektor pertanian dan penghijauan kota.

Menurutnya, pendekatan ini tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru dari limbah yang sebelumnya tidak berguna.

Dengan pengelolaan yang tepat, pasar tradisional dapat menjadi contoh penerapan ekonomi sirkular di tingkat lokal.

Konsep Ekonomi Sirkular di Pasar Tradisional

Konsep ekonomi sirkular menekankan pada pemanfaatan kembali limbah menjadi produk baru yang memiliki nilai ekonomi.

Dalam konteks pasar tradisional, sampah organik dapat diolah menjadi pupuk kompos melalui proses fermentasi dan penguraian alami.

Hasil pupuk tersebut kemudian dapat dimanfaatkan untuk pertanian perkotaan, taman kota, maupun sektor pertanian di daerah sekitar Jakarta.

Dengan demikian, siklus ekonomi menjadi lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Tantangan Pengelolaan Sampah Pasar

Meski memiliki potensi besar, pengolahan sampah pasar menjadi pupuk kompos juga menghadapi sejumlah tantangan.

Salah satunya adalah kebutuhan infrastruktur pengolahan sampah yang memadai, termasuk fasilitas pemilahan, pengangkutan, dan pengolahan.

Selain itu, kesadaran pedagang dan pengelola pasar dalam memilah sampah sejak dari sumber juga menjadi faktor penting keberhasilan program ini.

Tanpa keterlibatan semua pihak, pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular akan sulit berjalan optimal.

Peran Pemerintah dan Masyarakat

Pemerintah diharapkan dapat memberikan dukungan dalam bentuk fasilitas, pelatihan, serta regulasi yang mendorong pengelolaan sampah berkelanjutan di pasar tradisional.

Sementara itu, masyarakat dan pedagang pasar juga perlu dilibatkan secara aktif dalam proses pemilahan sampah agar proses pengolahan menjadi pupuk dapat berjalan efektif.

Kolaborasi antara pemerintah, pengelola pasar, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan.

Harapan ke Depan

Dengan volume sampah mencapai 5 ton per hari, Pasar Kramat Jati memiliki potensi besar untuk menjadi model pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular di Indonesia.

GABUNG KE WEBSITE RESMI KAMI DAFTAR/LOGIN

Jika program pengolahan sampah menjadi pupuk dapat berjalan dengan baik, bukan hanya lingkungan yang lebih bersih yang tercipta, tetapi juga manfaat ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat sekitar.

Langkah ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pasar-pasar lain di Indonesia untuk mulai mengelola sampah secara lebih produktif dan berkelanjutan.

Posting Komentar

0 Komentar